Rabu, 30 Mei 2012

After 1095+30 days and 5 months

It has been a long time since 2009 I don't post anything, it's been 1095+30 days and 5 months. I get used to English now so I think many of my post will be in English language, but I do feel kind of awkward... *POKER FACE*

I'm just going to do some TOP 5 lists... because I'm bored...

TOP 5 PS GAME:
1. Rave Online
2. Bloody Audition
3. Celestia Luna Online
4. Angel Jam
5. [Currently None]

TOP 5 ONLINE GAME:
1. S4 League
2. Audition
3. osu!
4. O2Mania/ O2Jam
5. Grand Chase

TOP 5 OFFLINE GAME:
1. O2Mania
2. Family Feud
3. Synthesia ( Game? )
4. GTA SA
5. GTA 4

FAVORITE SIBLING RANK:
1. Kristian ( FATSO! Likes to be mad 30~70+%, SHE'S GIRLEH! )
2. Hendra ( Sometimes act kind of gay, and also irritating... AYAY, so noisy le... )
3. Sallyna ( Oftenly get mad at me, very very often, so it's like... LOTS OF TIMES! )

AND FINALLY, A VERY SHORT LETTER FOR MY OLDEST SIS:

Dear Kristian,

Today is May 30th 2012, Happy Birthday Christiano Ronaldo!, just JK JK JK JK! Happy Birthday my not beloved sister, Kristian... that turn to 19 now... 7 age difference... wow... so awkward... btw your so old... I think I can't change the situation now... so awkward... sorry for awkwardness... bye...

Sincerely,
Me

-----------------------------------------------------------------------------------I'll end the post here

Senin, 21 Desember 2009

Legenda - Batu Belah

Pada zaman dahulu kala di kerajaan Palembang Darussalam. hiduplah seorang janda (sebut saja cik mina) dengan seorang anak laki-lakinya (sebut saja badar) yang berusia 10 tahun. mereka hidup di pesisir sungai musi sebagai warga biasa. Hidup mereka diisi dengan hari-hari yang penuh dengan usaha untuk mencari makan. janda tersebut setiap hari hanya pergi memancing. hasilnya cukup lumayan. sebagai hasil tangkapan ikan digunakan untuk mereka makan dan selebihnya dijual untuk keperluan badar sekolah di pesantren.

meskipun sekolah di pesantren, namun tingkah laku Badar sangatlah nakal. Ia jarang dan hampir tidak pernah membntu ibunya untuk mencari atau menjual ikan. hidup Badar hanya diisi dengan bermain-main dengan teman-temannya di kalangan sultan. sebetulnya cik Mina memaklumi jika badar tidak mau membantunya. cik Mina berpikir bahwa anak seusia badar memang waktunya bermain-main. hari-berhari terus berlalu, kehidupan keduanya tetap sama seperti sebelumnya.

Keadaan seperti itu terus berlanjut, hingga suatu ketika cik Mina kedatangan seorang ustadz dari tempat Badar sekolah. ustadz tersebut berpesan kepada cik Mina bahwa minggu-minggu ini Badar sering bolos sekolah dan tidak pernah lagi membayar uang sumbangan pesantren tiap bulannya. cik Mina sedih mendengar hal tersebut padahal ia selalu menitipkan uang tersebut kepada Badar.

setelah ustadz permisi dari rumah. cik Mina menunggu kedatangan Badar. Namun beberapa lama menunggu Badar tak kunjung tiba. Badar sibuk bermain hingga lupa waktu. cik Mina terus menunggu di luar rumah meskipun sampai malam hari ia kedinginan akibat angin dari pesisir sungai Musi. sampai esok harinya cik Mina terus menunggu tapi badar belum juga tiba. Badar baru pulang kerumah sekitar tengah hari.

begitu tiba dirumah, Badar langsung ditanya oleh ibunya perihal apa yang disampaikan oleh ustadz kemarin. namun badar menyangkal perkataan ibunya. ia terus menerus bersikeras bahwa ia rajin masuk dan selalu memyar uang bulanan tersebut.

mendengar hal itu cik Mina bertambah sedih padahal dalam hatinya, ia akan memaafkan Badar jika Badar berkata jujur. dengan kejadian itu, cik Mina berinisiatif untuk membawa Bidar ke keramat putri Kembang Dadar. di keramat tersebut terdapat sebuah Batu yang sangat besar.

cik Mina berkata:”‘badar berkatalah jujur kepada ibu? apa benar yang dikatakan ustadz kemarin?”

“tidak Mek (ibu dalam bahasa palembang), aku berkata benar” jawab Badar.

mendengar hal itu, cik Mina berkata: “baiklah Badar! mari kita buktikan perkatanmu. jika yang kamu katakan benar, maka batu ini akan berubah menjadi patung. namun jika kamu berbohong batu ini akan membelah dan memakan Ibu’

“silahkan Mek, Aku tidak berbohong” jawab Badar

Badar berpikir bahwa itu hanya gertakan ibunya untuk membuatnya berterus terang. Badar bersikeras bahwa ia berkata jujur!

cik Mina bertanya sekali lagi tentang kebenaran perkataan ustadz, tapi Badar tetap berkata sama.

tiba-tiba setelah, Badar selesai berbicara kebohongannya, Langit langsung berubah menjadigelap, gemuruh kian menggelegar namun tidak disertai hujan, angin kencang terus menerus menerpa dan…. Batu yang ada dihadapan cik Mina dan Badar tiba-tiba terbelah dan membuka selebar-lebarnya. bersamaan terbukanya batu itu, tubuh cik Mina tertarik oleh suatu isapan yang sangat kuat dari elah batu yang membelah. Shuuuuup…. tiba-tiba saja cik mina hilang didalam Batu. batu tersebut kembali merapat dengan meninggalkan sedikit celah di bagian tengahnya.

melihat hal tersebut Badar menyesal. ia menangis sejadi-jadinya. namun penyesalan tinggalah penyesalan, ibunya tidak akan pernah kembali.

demikian!

note:

sampai saat ini batu tersebut masih ada! batu itu akan mengeluarkan air seolah-olah batu tersebut menangis jika masih terdapat anak nakal yang suka berbohong pada ibunya. banyak pendapat yang mengatakan bahwa batu tersebut berada di areal pemakaman putri kembang dadar, bukit siguntang atau ada yang mengatakan di daerah sabo kingking, ada juga yang berpendapat di daerah bagus kuning, plaju. Walallahu alam.

Sumber: Gede Rukiah sekojo (gede ino) dan sumber-sumber lainya.

Legenda - Segitiga Bermuda

Sebuah daratan seluas benua Eropa, dengan kota-kota yang indah, teknologi yang maju dan dengan pemerintahan yang diimpikan semua orang …, dilanda bencana alam yang dahsyat, luluh lantak dan tenggelam ke dasar laut, lenyap untuk selamanya. Legenda mengenai Atlantis ini sudah muncul lebih dari dua ribu tahun yang lalu, dan bagaimanapun kemungkinan kebenarannya, ini merupakan peninggalan yang sangat terhormat; karena yang mula-mula memunculkan kisahnya adalah Plato.

Filsuf besar Yunani ini menulis tentang Atlantis dalam dua dari dialog-dialognya, “Timaeus” dan “Critias”, sekitar tahun 370 sebelum masehi. Plato menyatakan bahwa kisah ini, yang menurutnya adalah nyata, berasal dari catatan berumur 200 tahun peninggalan penguasa Yunani, Solon yang mendengar tentang Atlantis dari seorang pendeta Mesir. Plato mengatakan bahwa benua itu terletak di Samudera Atlantik didekat selat Gibraltar sebelum akhirnya hancur 10.000 tahun yang lalu.

Di dalam “Timaeus”, Plato menggambarkan Atlantis sebagai bangsa yang makmur dan sedang memperluas kekuasaannya, “Sekarang di Benua Atlantis terdapat sebuah kerajaan yang besar dan terkenal, dengan penguasa bijaksana yang memerintah seluruh benua dan beberapa pulau lain disekitarnya,” tulisnya, “Dan, lebih jauh lagi, penduduk Atlantis merupakan bagian dari bangsa Libya yang membentang dari Heracles sampai Mesir, dan dari Eropa sampai Tirenia.”

Plato selanjutnya mengatakan bagaimana Atlantis membuat sebuah kesalahan fatal dengan berusaha menaklukan Yunani, mereka tidak sanggup mengalahkan pasukan Yunani, dan karena kekalahan ini, bencana alam menyusul dan mengakhiri nasibnya.

“Timaeus” melanjutkan; “Tetapi setelah itu berlangsung gempa bumi dahsyat dan banjir besar; karena nasib buruk, dalam sehari-semalam semua orang yang menyukai perang ini tenggelam ditelan bumi, demikian juga dengan Benua Atlantis, lenyap di kedalaman lautan.”

Yang menarik, Plato lebih lanjut mengisahkan tentang Atlantis dalam cerita yang lebih menjurus ke metafisika di dalam “Critias”. Di situ dia menggambarkan benua yang hilang itu sebagai kerajaan Poseidon, Dewa Laut. Atlantis adalah juga sebuah masyarakat yang terhormat dan canggih, yang selalu dalam kedamaian selama berabad-abad, sampai pada akhirnya orang-orangnya tidak lagi merasa puas dan menjadi tamak, marah karena mereka mengingkari kehormatannya, Zeus memutuskan menghukum mereka dengan menghancurkan Atlantis.

Walaupun Plato merupakan orang yang pertama kali menggunakan kata “Atlantis”, ada kisah yang mendahului legenda ini, ada sebuah legenda Mesir yang mungkin didengar oleh Solon ketika dia pergi ke Mesir, yang beberapa tahun kemudian diceritakannya pada Plato, sebuah suku bangsa di pulau Keftiu, yang menurut legenda Yunani, tempat dimana salah satu dari empat pilar penyangga langit berada, dikisahkan mengenai sebuah bangsa yang penuh kemuliaan dan mempunyai peradaban yang sangat maju, yang kemudian hancur dan tenggelam ke dasar samudra.

Yang lebih penting, ada sebuah kisah lain yang mirip dengan cerita mengenai Atlantis yang lebih mendekati dunia Plato, sebuah istilah yang berhubungan dengan waktu dan ilmu bumi …, dan ini lebih berdasarkan kenyataan:

Peradaban Minoan yang berlandaskan pada budaya yang mulia dan damai, berada di pulau Kreta, 2200 tahun sebelum masehi. Di pulau Minoan di kawasan Santorini, yang kemudian dikenal dengan Thera, ada sebuah gunung berapi yang sangat besar, pada tahun 1470 SM, gunung itu meletus dengan kekuatan yang diperkirakan lebih besar dari letusan gunung Krakatau, melenyapkan semua yang ada dipermukaan tanah, gempa bumi dan tsunami yang menyertainya, menghancurkan kebudayaan Minoan yang tersisa. Mungkin Santorini adalah “Atlantis yang sebenarnya”. Beberapa orang yang tidak setuju dengan pendapat ini, mengemukakan alasan bahwa Plato menyatakan Atlantis tenggelam 10.000 tahun yang lalu, sedangkan bencana Minoan terjadi 3.500 tahun yang lalu, mungkin saja ada kesalahan penterjemahan tentang tahun-tahun yang sebenarnya ditulis oleh Plato, atau mungkin saja dengan sengaja dia telah mengaburkan kenyataan sejarah demi kepentingannya. Masih ada satu kemungkinan kuat lainnya; Plato hanya mengarang kisah mengenai Atlantis ini.

Kisah benua yang tenggelam ini terus hidup dari generasi kegenerasi selanjutnya. Seorang pemikir Yunani lainnya, seperti Aristoteles dan Pliny, mempertanyakan mengenai eksistensi Atlantis, sedangkan Plutarch dan Herodotus menulisnya sebagai kenyataan sejarah. Atlantis sekarang menjadi cerita rakyat di seluruh dunia, tergambar di peta, dan terus dicari oleh para penjelajah.

Pada tahun 1882, Ignatius Donnelly, anggota konggres Amerika dari Minnesota, memperkenalkan legenda ini kepada masyarakat Amerika melalui bukunya, Atlantis: sebuah dunia yang sangat kuno, kemudian seorang Paranormal, Edgar Cayce (1877 – 1945) menjadi seorang ahli mengenai seluk beluk Atlantis, dia dikenal luas sebagai “The Sleeping Prophet”. Cayce dikenal mempunyai keahlian melihat ke masa depan dan berkomunikasi dengan roh orang yang sudah lama sekali meninggal.

Cayce mengatakan bahwa Atlantis terletak di dekat pulau Bermuda Bimini. Dia yakin bahwa penduduk Atlantis menguasai teknologi yang sangat maju, termasuk “Kristal Api” yang mempunyai energi teramat kuat, yang digunakan sebagai sumber energi. Bencana yang disebabkan oleh tidak dapat dikontrolnya kristal api ini, mengakibatkan tenggelamnya Atlantis, ini kendengaran seperti peringatan akan bahaya tenaga nuklir. Karena kristal api yang sudah rusak ini tetap aktif di bawah gelombang samudra, dan terus memancarkan gelombang energi yang mengganggu navigasi kapal atau pesawat terbang yang melintas, daerah Bermuda ini kemudian oleh Cayce disebut dengan segitiga Bermuda.

Cayce meramalkan bahwa sebagian dari Atlantis akan kembali muncul ke permukaan pada akhir abad ke duapuluh satu ini. Dengan penjejakan sonar dan pengetahuan modern yang disebut lempeng tektonik, belum dapat dipastikan apakah Atlantis benar-benar pernah ada. Tetapi terdapat persamaan budaya dan legenda pada suku bangsa di sekitar kawasan itu tentang adanya Atlantis, walaupun dalam versi dan nama yang berbeda.

Legenda - Sungai Jodoh


Pada suatu masa di pedalaman pulau Batam, ada sebuah desa yang didiami seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan bernama Mak Piah. Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang. Pada suatu hari, Mah Bongsu mencuci pakaian majikannya di sebuah sungai. Ular! teriak Mah Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ulat mendekat. Ternyata ular itu tidak ganas, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah.

Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memungut kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib, setiap Mah Bongsu membakar kulit ular, timbul asap besar. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, maka tiba-tiba terdapat tumpukan emas berlian dan uang. Jika asapnya mengarah ke negeri Jepang, mengalirlah berbagai alat elektronik buatan Jepang. Dan bila asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, datang berkodi-kodi kain tapis Lampung. Dalam tempo dua, tiga bulan, Mah Bongsu menjadi kaya raya jauh melebihi Mak Piah Majikannya.

Kekayaan Mah Bongsu membuat orang bertanya-tanya. Pasti Mah Bongsu memelihara tuyul, kata Mak Piah. Pak Buntal pun menggarisbawahi pernyataan istrinya itu. Bukan memelihara tuyul! Tetapi ia telah mencuri hartaku! Banyak orang menjadi penasaran dan berusaha menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu. Untuk menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu ternyata tidak mudah. Beberapa dari orang dusun yang penasaran telah menyelidiki berhari-hari namun tidak dapat menemukan rahasianya.
Yang penting sekarang ini, kita tidak dirugikan, kata Mak Ungkai kepada tetangganya. Bahkan Mak Ungkai dan para tetangganya mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, sebab Mah Bongsu selalu memberi bantuan mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Selain mereka, Mah Bongsu juga membantu para anak yatim piatu, orang yang sakit dan orang lain yang memang membutuhkan bantuan. Mah Bongsu seorang yang dermawati, sebut mereka.

Mak Piah dan Siti Mayang, anak gadisnya merasa tersaingi. Hampir setiap malam mereka mengintip ke rumah Mah Bongsu. Wah, ada ular sebesar betis? gumam Mak Piah. Dari kulitnya yang terkelupas dan dibakar bisa mendatangkan harta karun? gumamnya lagi. Hmm, kalau begitu aku juga akan mencari ular sebesar itu, ujar Mak Piah.
Mak Piah pun berjalan ke hutan mencari seekor ular. Tak lama, ia pun mendapatkan seekor ular berbisa. Dari ular berbisa ini pasti akan mendatangkan harta karun lebih banyak daripada yang didapat oleh Mah Bongsu, pikir Mak Piah. Ular itu lalu di bawa pulang. Malam harinya ular berbisa itu ditidurkan bersama Siti Mayang. Saya takut! Ular melilit dan menggigitku! teriak Siti Mayang ketakutan. Anakku, jangan takut.

Bertahanlah, ular itu akan mendatangkan harta karun, ucap Mak Piah.

Sementara itu, luka ular milik Mah Bongsu sudah sembuh. Mah Bongsu semakin menyayangi ularnya. Saat Mah Bongsu menghidangkan makanan dan minuman untuk ularnya, ia tiba-tiba terkejut. Jangan terkejut. Malam ini antarkan aku ke sungai, tempat pertemuan kita dulu, kata ular yang ternyata pandai berbicara seperti manusia. Mah Bongsu mengantar ular itu ke sungai. Sesampainya di sungai, ular mengutarakan isi hatinya. Mah Bongsu, Aku ingin membalas budi yang setimpal dengan yang telah kau berikan padaku, ungkap ular itu. Aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku, lanjutnya. Mah Bongsu semakin terkejut, ia tidak bisa menjawab sepatah katapun. Bahkan ia menjadi bingung.

Ular segera menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Kulit ular sakti itu pun berubah wujud menjadi sebuah gedung yang megah yang terletak di halaman depan pondok Mah bongsu. Selanjutnya tempat itu diberi nama desa Tiban asal dari kata ketiban, yang artinya kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan.

Akhirnya, Mah Bongsu melangsungkan pernikahan dengan pemuda tampan tersebut. Pesta pun dilangsungkan tiga hari tiga malam. Berbagai macam hiburan ditampilkan. Tamu yang datang tiada henti-hentinya memberikan ucapan selamat.

Dibalik kebahagian Mah Bongsu, keadaan keluarga Mak Piah yang tamak dan loba sedang dirundung duka, karena Siti Mayang, anak gadisnya meninggal dipatuk ular berbisa.

Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang berubah wujud menjadi pemuda tampan itu dipercaya sebagai tempat jodoh. Sehingga sungai itu disebut Sungai Jodoh.

Legenda - Gunung Tangkuban Perahu



Pada jaman dahulu kala, di tatar Parahyangan, berdiri sebuah kerajaan yang gemah ripah lohjinawi kerta raharja. Tersebutlah sang prabu yang gemar olah raga berburu binatang, yang senantiasa ditemani anjingnya yang setia, yang bernama "Tumang".

Pada suatu ketika sang Prabu berburu rusa, namun telah seharian hasilnya kurang menggembirakan. Binatang buruan di hutan seakan lenyap ditelan bumi. Ditengah kekecewaan tidak mendapatkan binatang buruannya, sang Prabu dikagetkan dengan nyalakan anjing setianya "Tumang" yang menemukan seorang bayi perempuan tergeletak diantara rimbunan rerumputan. Alangkah gembiranya sang Prabu, ketika ditemukannya bayi perempuan yang berparas cantik tersebut, mengingat telah cukup lama sang Prabu mendambakan seorang putri, namun belum juga dikaruniai anak. Bayi perempuan itu diberi nama Putri Dayangsumbi.

Alkisah putri Dayngsumbi nan cantik rupawan setelah dewasa dipersunting seorang pria, yang kemudian dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang yang juga kelak memiliki kegemaran berburu seperti juga sang Prabu. Namun sayang suami Dayangsumbi tidak berumur panjang.

Suatu saat, Sangkuriang yang masih sangat muda belia, mengadakan perburuan ditemani anjing kesayangan sang Prabu yang juga kesayangan ibunya, yaitu Tumang. Namun hari yang kurang baik menyebabkan perburuan tidak memperoleh hasil binatang buruan. Karena Sangkuriang telah berjanji untuk mempersembahkan hati rusa untuk ibunya, sedangkan rusa buruan tidak didapatkannya, maka Sangkuriang nekad membunuh si Tumang anjing kesayangan ibunya dan juga sang Prabu untuk diambil hatinya, yang kemudian dipersembahkan kepada ibunya.

Ketika Dayangsumbi akhirnya mengetahui bahwa hati rusa yang dipersembahkan putranya tiada lain adalah hati "si Tumang" anjing kesayangannya, maka murkalah Dayangsumbi. Terdorong amarah, tanpa sengaja, dipukulnya kepala putranya dengan centong nasi yang sedang dipegangnya, hingga menimbulkan luka yang berbekas. Sangkuriang merasa usaha untuk menggembirakan ibunya sia-sia, dan merasa perbuatannya tidak bersalah. Pikirnya tiada hati rusa, hati anjingpun jadilah, dengan tidak memikirkan kesetiaan si Tumang yang selama hidupnya telah setia mengabdi pada majikannya. Sangkuriangpun minggat meninggalkan kerajaan, lalu menghilang tanpa karana.

Setelah kejadian itu Dayangsumbi merasa sangat menyesal, setiap hari ia selalu berdoa dan memohon kepada Hyang Tunggal, agar ia dapat dipertemukan kembali dengan putranya. Kelak permohonan ini terkabulkan, dan kemurahan sang Hyang Tunggal jualah maka Dayangsumbi dikaruniai awet muda. Syahdan Sangkuriang yang terus mengembara, ia tumbuh penjadi pemuda yang gagah perkasa, sakti mandraguna apalgi setelah ia berhasil menaklukan bangsa siluman yang sakti pula, yaitu Guriang Tujuh.

Dalam suatu saat pengembaraannya, Sangkuriang tanpa disadarinya ia kembali ke kerajaan dimana ia berasal. Dan alur cerita hidup mempertemukan ia dengan seorang putri yang berparas jelita nan menawan, yang tiada lain ialah putri Dayangsumbi. Sangkuriang jatuh hati kepada putri tersebut, demikianpula Dayangsumbi terpesona akan kegagahan dan ketampanan Sangkuriang, maka hubungan asmara keduanya terjalinlah. Sangkuriang maupun Dayangsumbi saat itu tidak mengetahui bahwa sebenarnya keduanya adalah ibu dan anak. Sangkuriang akhirnya melamar Dayangsumbi untuk dipersunting menjadi istrinya.
Namun lagi lagi alur cerita hidup membuka tabir yang tertutup, Dayangsumbi mengetahui bahwa pemuda itu adalah Sangkuriang anaknya, sewaktu ia melihat bekas luka dikepala Sangkuriang, saat ia membetulkan ikat kepala calon suaminya itu.

Setelah merasa yakin bawa Sangkuriang anaknya, Dayangsumbi berusaha menggagalkan pernikahan dengan anaknya. Untuk mempersunting dirinya, Dayangsumbi mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi Sangkuriang dengan batas waktu sebelum fajar menyingsing. Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat sebuah perahu yang besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau untuk bisa dipakai berlayarnya perahu tersebut.
Sangkuriang menyanggupi syarat tersebut, ia bekerja lembur dibantu oleh wadiabalad siluman pimpinan Guriang Tujuh untuk mewujudkan permintaan tersebut. Kayu kayu besar untuk perahu dan membendung sungai Citarum, ia dapatkan dari hutan di sebuah gunung yang menurut legenda kelak diberi nama Gunung Bukit Tunggul. Adapun ranting dan daun dari pohon yang dipakai kayunya, ia kumpulkan disebuah bukit yang diberi nama gunung Burangrang.

Sementara itu Dayangsumbi-pun memohon sang Hyang Tunggal untuk menolongnya, menggagalkan maksud Sangkuriang untuk memperistri dirinya. Sang Hyang Tunggal mengabulkan permohonan Dayangsumbi, sebelum pekerjaan Sangkuriang selesai, ayampun berkokok dan fajar menyingsing ……. Sangkuriang murka, mengetahui ia gagal memenuhi syarat tersebut, ia menendang perahu yang sedang dibuatnya. Perahu akhirnya jatuh menelungkup dan menurut legenda kelak jadilah Gunung Tangkubanparahu, sementara aliran Sungai Citarum yang dibendung sedikit demi sedikit membentuk danau Bandung.

Legenda - Malin Kundang



Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu".

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

Legenda - Danau Toba


Tersebutlah seorang pemuda yatim piatu yang miskin. Ia tinggal seorang diri di bagian Utara Pulau Sumatra yang sangat kering. Ia hidup dengan bertani dan memancing ikan.

Suatu hari, ia memancing dan mendapatkan ikan tangkapan yang aneh. Ikan itu besar dan sangat indah. Warnanya keemasan. Ia lalu melepas pancingnya dan memegangi ikan itu. Tetapi saat tersentuh tangannya, ikan itu berubah menjadi seorang putri yang cantik! Ternyata ia adalah ikan yang sedang dikutuk para dewa karena telah melanggar suatu larangan. Telah disuratkan, jika ia tersentuh tangan, ia akan berubah bentuk menjadi seperti makhluk apa yang menyentuhnya. Karena ia disentuh manusia, maka ia juga berubah menjadi manusia.

Pemuda itu lalu meminang putri ikan itu. Putri ikan itu menganggukan kepalanya tanda bersedia.

“Namun aku punya satu permintaan, kakanda.” katanya.

“Aku bersedia menjadi istri kakanda, asalkan kakanda mau menjaga rahasiaku bahwa aku berasal dari seekor ikan.”

“Baiklah, Adinda. Aku akan menjaga rahasia itu.” kata pemuda itu.

Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang bayi laki-laki yang lucu. Namun ketika beranjak besar, si Anak ini selalu merasa lapar. Walapun sudah banyak makan-makanan yang masuk kemulutnya, ia tak pernah merasa kenyang.

Suatu hari, karena begitu laparnya, ia makan semua makanan yang ada di meja, termasuk jatah makan kedua orang tuanya. Sepulang dari ladang, bapaknya yang lapar mendapati meja yang kosong tak ada makanan, marahlah hatinya. Karena lapar dan tak bisa menguasai diri, keluarlah kata-katanya yang kasar.

“Dasar anak keturunan ikan!”

Ia tak menyadari, dengan ucapannya itu, berarti ia sudah membuka rahasia istrinya.

Seketika itu juga, istri dan anaknya hilang dengan gaib. Ia jadi sedih dan sangat menyesal atas perbuatannya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Ia tak pernah bisa bertemu kembali dengan istri dan maupun anaknya yang disayanginya itu.

Di tanah bekas pijakan istri dan anaknya itu, tiba-tiba ada mata air menyembur. Airnya makin lama makin besar. Lama-lama menjadi danau. Danau inilah yang kemudian kita kenal sampai sekarang sebagai Danau Toba.