Senin, 21 Desember 2009

Legenda - Batu Belah

Pada zaman dahulu kala di kerajaan Palembang Darussalam. hiduplah seorang janda (sebut saja cik mina) dengan seorang anak laki-lakinya (sebut saja badar) yang berusia 10 tahun. mereka hidup di pesisir sungai musi sebagai warga biasa. Hidup mereka diisi dengan hari-hari yang penuh dengan usaha untuk mencari makan. janda tersebut setiap hari hanya pergi memancing. hasilnya cukup lumayan. sebagai hasil tangkapan ikan digunakan untuk mereka makan dan selebihnya dijual untuk keperluan badar sekolah di pesantren.

meskipun sekolah di pesantren, namun tingkah laku Badar sangatlah nakal. Ia jarang dan hampir tidak pernah membntu ibunya untuk mencari atau menjual ikan. hidup Badar hanya diisi dengan bermain-main dengan teman-temannya di kalangan sultan. sebetulnya cik Mina memaklumi jika badar tidak mau membantunya. cik Mina berpikir bahwa anak seusia badar memang waktunya bermain-main. hari-berhari terus berlalu, kehidupan keduanya tetap sama seperti sebelumnya.

Keadaan seperti itu terus berlanjut, hingga suatu ketika cik Mina kedatangan seorang ustadz dari tempat Badar sekolah. ustadz tersebut berpesan kepada cik Mina bahwa minggu-minggu ini Badar sering bolos sekolah dan tidak pernah lagi membayar uang sumbangan pesantren tiap bulannya. cik Mina sedih mendengar hal tersebut padahal ia selalu menitipkan uang tersebut kepada Badar.

setelah ustadz permisi dari rumah. cik Mina menunggu kedatangan Badar. Namun beberapa lama menunggu Badar tak kunjung tiba. Badar sibuk bermain hingga lupa waktu. cik Mina terus menunggu di luar rumah meskipun sampai malam hari ia kedinginan akibat angin dari pesisir sungai Musi. sampai esok harinya cik Mina terus menunggu tapi badar belum juga tiba. Badar baru pulang kerumah sekitar tengah hari.

begitu tiba dirumah, Badar langsung ditanya oleh ibunya perihal apa yang disampaikan oleh ustadz kemarin. namun badar menyangkal perkataan ibunya. ia terus menerus bersikeras bahwa ia rajin masuk dan selalu memyar uang bulanan tersebut.

mendengar hal itu cik Mina bertambah sedih padahal dalam hatinya, ia akan memaafkan Badar jika Badar berkata jujur. dengan kejadian itu, cik Mina berinisiatif untuk membawa Bidar ke keramat putri Kembang Dadar. di keramat tersebut terdapat sebuah Batu yang sangat besar.

cik Mina berkata:”‘badar berkatalah jujur kepada ibu? apa benar yang dikatakan ustadz kemarin?”

“tidak Mek (ibu dalam bahasa palembang), aku berkata benar” jawab Badar.

mendengar hal itu, cik Mina berkata: “baiklah Badar! mari kita buktikan perkatanmu. jika yang kamu katakan benar, maka batu ini akan berubah menjadi patung. namun jika kamu berbohong batu ini akan membelah dan memakan Ibu’

“silahkan Mek, Aku tidak berbohong” jawab Badar

Badar berpikir bahwa itu hanya gertakan ibunya untuk membuatnya berterus terang. Badar bersikeras bahwa ia berkata jujur!

cik Mina bertanya sekali lagi tentang kebenaran perkataan ustadz, tapi Badar tetap berkata sama.

tiba-tiba setelah, Badar selesai berbicara kebohongannya, Langit langsung berubah menjadigelap, gemuruh kian menggelegar namun tidak disertai hujan, angin kencang terus menerus menerpa dan…. Batu yang ada dihadapan cik Mina dan Badar tiba-tiba terbelah dan membuka selebar-lebarnya. bersamaan terbukanya batu itu, tubuh cik Mina tertarik oleh suatu isapan yang sangat kuat dari elah batu yang membelah. Shuuuuup…. tiba-tiba saja cik mina hilang didalam Batu. batu tersebut kembali merapat dengan meninggalkan sedikit celah di bagian tengahnya.

melihat hal tersebut Badar menyesal. ia menangis sejadi-jadinya. namun penyesalan tinggalah penyesalan, ibunya tidak akan pernah kembali.

demikian!

note:

sampai saat ini batu tersebut masih ada! batu itu akan mengeluarkan air seolah-olah batu tersebut menangis jika masih terdapat anak nakal yang suka berbohong pada ibunya. banyak pendapat yang mengatakan bahwa batu tersebut berada di areal pemakaman putri kembang dadar, bukit siguntang atau ada yang mengatakan di daerah sabo kingking, ada juga yang berpendapat di daerah bagus kuning, plaju. Walallahu alam.

Sumber: Gede Rukiah sekojo (gede ino) dan sumber-sumber lainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar